Virus corona masih menjadi momok bagi dunia. Pertambahan kasus masih terus terjadi, meski upaya pencegahan seperti vaksinasi tengah dilakukan.
Pada Jumat (4/6) ada sejumlah informasi teranyar terkait virus tersebut dari sejumlah negara. Seperti virus corona yang kembali mewabah di Myanmar hingga Amerika Serikat bagikan jutaan vaksin ke berbagai negara.
Berikut kumparan rangkum beberapa di antaranya:
Corona di Myanmar Semakin Menjadi
Virus corona di Myanmar kembali mewabah. Laporan resmi memperlihatkan penambahan kasus di negara yang berbatasan dengan India itu, paling banyak terjadi di Februari 2021 sejak kudeta dilakukan oleh Junta Myanmar.
Pada Kamis (3/6) muncul 122 penambahan kasus COVID-19 di seluruh Myanmar. Angka itu rendah dibanding negara tetangga lain, namun tertinggi bagi Myanmar dalam empat bulan.
Episenter COVID-19 di Myanmar kali ini terjadi di Negara Bagian Chin. Karena berbatasan dengan India dikhawatirkan varian India yang lebih ganas dan mematikan telah menyebar di Myanmar.
Terkait melonjaknya kasus di Myanmar, Kementerian Kesehatan di bawah kendali junta menolak berkomentar.
Sejak kudeta lalu, tes corona di Myanmar merosot ke angka terendah. Hal ini disebabkan petugas medis ikut aksi mogok massal menolak kudeta.
Saat ini per harinya di seluruh Myanmar hanya ada 1400 tes. Sebelum kudeta jumlah tes corona per hari mencapai 17 ribu tes.
Kematian Anak di Malaysia Melonjak
Malaysia kini menerapkan lockdown nasional. Penguncian ketat secara nasional untuk menahan laju infeksi virus corona yang makin tak terkendali.
Namun demikian, dalam beberapa hari terakhir, penambahan kasus dan kematian memecahkan rekor harian. PM Muhyiddin Yassin menyebut, lonjakan kasus terkait varian baru lebih ganas telah menyebar di seluruh di Malaysia.
Menurut Dirjen Kementerian Kesehatan Malaysia, Noor Hisham Abdullah, salah satu kelompok paling rentan tertular varian baru adalah anak.
Dari laporan yang diterimanya, selama lima bulan pada 2021 tiga orang anak di bawah lima tahun kehilangan nyawa akibat corona.
Jumlah itu sama dengan total kematian anak sepanjang 2020 lalu. Untuk kondisi saat ini, sebanyak 27 anak-anak dirawat di ICU lantaran terinfeksi COVID-19. Sebanyak 19 di antaranya berusia di bawah lima tahun.
Varian India Meluas di Inggris
Badan Kesehatan Masyarakat Inggris atau PHE mengatakan, virus corona varian India (B.1617) atau yang disebut sebagai varian Delta, kini meluas di Inggris.
Dikutip dari Reuters, Jumat (4/6), dalam laporan penambahan kasus mingguan terbaru, Inggris mencatat sebanyak 5.472 kasus infeksi varian India/Delta.
Total kasus varian ini menjadi 12.431 infeksi, melampaui jumlah kasus varian Inggris/Alpha yang sebelumnya merupakan varian dominan. PHE menduga varian India ini jauh lebih menular dibandingkan varian Inggris.
Perdana Menteri Boris Johnson menegaskan, varian ini bisa menghambat rencana pelonggaran lockdown Inggris yang rencananya akan diberlakukan pada 21 Juni mendatang.
Tak Ada Mutasi Baru di Vietnam
Publik digemparkan dengan pengumuman Kementerian Kesehatan Vietnam yang menyatakan terdeteksinya mutasi baru COVID-19 yang berupa kombinasi antara varian corona India (B.1617, Delta) dan varian Inggris (B.117, Alpha).
Namun WHO menegaskan saat ini tak ada varian corona hibrida atau kombinasi yang menyebar di Vietnam.
“Tak ada varian hibrida baru di Vietnam saat ini, berdasarkan definisi WHO,” kata perwakilan WHO di Vietnam, Dr Kidong Park, seperti dikutip dari South China Morning Post.
Menurut Park, varian baru yang terdeteksi itu bukanlah kombinasi antara varian India dengan varian Inggris. Melainkan varian India yang memiliki mutasi-mutasi tambahan.
Diduga Pasien Zero COVID-19 di Wuhan
Seorang wanita paruh baya berusia 61 diduga merupakan pasien zero COVID-19. Ini sedikit demi sedikit membuka tabir siapa orang yang pertama kali terjangkit virus tersebut.
Dikutip dari Daily Mail, Jumat (4/6), wanita itu disebut sebagai pasien su. Ia tinggal dekat dari Institut Virologi Wuhan.
Data mengenai pasien su disampaikan Profesor Yu Chuanhua. Yu merupakan profesor biostatistik di Universitas Wuhan yang bertugas menyusun data resmi kasus COVID-19.
"Ada data pasien yang jatuh sakit pada 29 September," kata dia.
“Data menunjukkan pasien belum menjalani tes nukleat dan diagnosis klinisnya adalah kasus suspek (COVID-19). Pasien telah meninggal. Datanya belum dikonfirmasi," tambah dia.
Sementara berdasarkan data resmi China di WHO, mereka menyebut kasus awal COVID-19 ditemukan pada 8 Desember 2019. Artinya, jika pasien su benar meninggal akibat COVID-19, maka penularan COVID-19 sudah terjadi sejak jauh hari dari data resmi.
Joe Biden Bagikan 25 Juta Dosis Vaksin
Presiden Joe Biden berencana membagikan kelebihan stok vaksin yang mereka miliki kepada negara-negara di dunia yang membutuhkan.
Gedung Putih menyatakan, AS memiliki 25 juta dosis vaksin COVID-19 yang sebagian besar akan mereka bagikan lewat skema COVAX.
“Upaya kami membagikan dosis-dosis [vaksin] ini bukan untuk memperoleh kepentingan atau konsesi,” ujar Biden, dikutip dari Reuters.
“Kami membagikan vaksin-vaksin ini demi menyelamatkan hidup dan memimpin dunia dalam mengakhiri pandemi, dengan kekuatan teladan dan nilai-nilai kami,” lanjutnya.
Dari 25 juta vaksin yang akan dibagikan, sebanyak 19 juta dosis akan didonasikan melalui skema COVAX facility. Lewat skema COVAX, 6 juta dosis akan disalurkan ke Amerika Latin dan Kepulauan Karibia, 7 juta ke Asia Selatan dan Tenggara, dan 5 juta ke negara-negara di Afrika.
Sisa 6 juta dosis vaksin akan disalurkan langsung oleh AS ke Kanada, Meksiko, India, dan Korea Selatan.