Kabar Corona Dunia: Pusat Vaksinasi Besar di Jepang; Rekor Baru Kasus di India

Kabar Corona Dunia: Pusat Vaksinasi Besar di Jepang; Rekor Baru Kasus di India
Ratusan warga Mumbai, India mengantre untuk mendapatkan vaksin COVID-19. Foto: Niharika Kulkarni/Reuters

Penularan virus corona di dunia masih terjadi. Bahkan sejumlah negara mengalami gelombang ketiga atau third wave penularan COVID-19, sehingga harus kembali membatasi bahkan menutup akses masuk ke negaranya.

Karena hal itu pula, kebutuhan vaksin corona semakin meningkat untuk segera mengatasi pandemi ini. Di sisi lain, distribusi vaksin mengalami hambatan karena meningkatnya penularan corona di berbagai negara.

Seperti apa perkembangannya? Berikut kabar corona dunia yang telah kumparan rangkum:

Jepang Berencana Buka Pusat Vaksinasi Besar, Sehari Bisa Suntik 10 Ribu Orang

Kabar Corona Dunia: Pusat Vaksinasi Besar di Jepang; Rekor Baru Kasus di India (1)
Seorang peserta yang berpura-pura menerima suntikan vaksin penyakit coronavirus di gym kampus di Kawasaki, selatan Tokyo, Jepang. Foto: Kim Kyung-Hoon/Reuters

Pemerintah Jepang berencana membuka pusat vaksinasi besar di Tokyo dan Osaka dalam beberapa minggu ke depan, dengan tujuan mempercepat dorongan vaksinasi.

Pemerintah akan membuka pusat vaksinasi di pusat Tokyo pada awal Mei. Fasilitas tersebut dapat memvaksinasi sekitar 10 ribu orang setiap hari.

Pusat vaksinasi itu akan terbuka bagi siapa saja yang tinggal dan bekerja di Tokyo. Staf terlatih secara medis dari Japan's Self-Defense Forces juga akan membantu vaksinasi di pusat tersebut.

Warga Amerika Serikat yang Sudah Divaksin COVID-19 Akan Diizinkan Masuk Eropa

Kabar Corona Dunia: Pusat Vaksinasi Besar di Jepang; Rekor Baru Kasus di India (2)
Petugas mengemas vaksin corona Pfizer-BioNTech yang akan dikirimkan, di pabrik manufaktur Pfizer Global Supply Kalamazoo di Portage, Michigan, AS, Minggu (13/12). Foto: Pool via REUTERS

Warga AS yang sudah divaksin akan diizinkan mengunjungi Eropa. Kebijakan ini merupakan bagian keringanan larangan perjalanan. Selama hampir setahun, warga AS dilarang berkunjung ke Eropa karena pandemi yang meluas di Negeri Paman Sam.

Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, mengatakan pada dasarnya 27 anggota menyetujui usulan tersebut. Jika tidak ada hambatan, kebijakan ini akan berlaku mulai musim panas 2021 yang dimulai Juni 2021.

"Mereka yang diterima tanpa pengecualian adalah yang sudah divaksin menggunakan vaksin yang sudah disetujui oleh Badan Eropa," kata von der Leyen.

Tiga vaksin yang diproduksi dan digunakan di AS, yaitu Moderna, Pfizer, dan Johnson & Johnson telah mendapat izin pakai di Eropa.

5 Hari Berturut-turut COVID-19 di India Pecah Rekor, Kali Ini Bertambah 352.991

Kabar Corona Dunia: Pusat Vaksinasi Besar di Jepang; Rekor Baru Kasus di India (3)
Pasien terinfeksi virus corona mendapat perawatan di Ahmedabad, India. Foto: Amit Dave/REUTERS

Kasus COVID-19 di India terus bertambah. Pada Senin (26/4), pemerintah India kembali mencatat rekor baru kasus harian sebesar 352.991 kasus baru.

Jumlah itu juga memecahkan rekor harian penambahan kasus corona di dunia.

Kini total kasus infeksi virus corona di India melebihi 17 juta orang. India masih menduduki peringkat dua negara dengan kasus infeksi terbanyak di dunia setelah AS.

PM Narendra Modi: India Diguncang Badai Virus Corona

Kabar Corona Dunia: Pusat Vaksinasi Besar di Jepang; Rekor Baru Kasus di India (4)
Perdana Menteri India Narendra Modi. Foto: Prakash SINGH / AFP

PM India Narendra Modi mengakui negaranya berada di tengah badai COVID-19. Apalagi hampir setiap hari, kasus harian terus memecahkan rekor.

"India sedang diguncang badai," kata Modi.

Agar badai virus corona segera usai, Modi mendorong warga India untuk segera disuntik vaksin COVID-19 dan meningkatkan kewaspadaan.

"Jangan guncang hanya karena berbagai rumor soal vaksin," tegasnya.

PM Inggris Dituduh Pernah Berkata: Lebih Baik Tumpukan Mayat daripada Lockdown

Kabar Corona Dunia: Pusat Vaksinasi Besar di Jepang; Rekor Baru Kasus di India (5)
PM Inggris Boris Johnson Foto: Reuters/Hannah Mckay/

PM Inggris Boris Johnson berada dalam tekanan karena dituduh pernah berkata tidak pantas terkait pandemi COVID-19.

Media Inggris melaporkan, ucapan tak pantas tersebut diucapkan pada Oktober 2020 lalu. Dalam rapat tertutup di Downing Street, Johnson yang baru menyetujui lockdown langsung menumpahkan kemarahannya.

"Tidak bakal ada lagi lockdown sialan. Biar saja ribuan mayat menumpuk," kata Johnson saat itu.

Pernyataan di berbagai media Inggris ini dibantah Menhan Ben Wallace. Dia memastikan, Johnson tak pernah mengeluarkan ucapan tak pantas macam itu.

"Tidak benar sama sekali. Semua orang pasti membantah ini," kata Wallace.

Infeksi Virus Corona di Filipina Tembus Satu Juta Kasus

Kabar Corona Dunia: Pusat Vaksinasi Besar di Jepang; Rekor Baru Kasus di India (6)
Seorang petugas kesehatan menerima vaksin corona Sinovac di Lung Center of the Philippines, Quezon City, Metro Manila, Filipina. Foto: Eloisa Lopez/REUTERS

Kasus virus corona di Filipina tembus satu juta kasus. Data Kementerian Kesehatan Filipina pada Senin (26/4) menyatakan, kasus baru bertambah 8.929, sehingga totalnya mencapai 1.006.428.

Mayoritas kasus baru berasal dari ibu kota Manila dan wilayah sekitarnya.

Selain kasus baru, pada waktu yang sama Filipina melaporkan penambahan 70 korban jiwa. Total sebanyak 16.853 warga Filipina meninggal akibat COVID-19.

Virus Corona dari India Buat Kasus COVID-19 di Nepal Melonjak

Kabar Corona Dunia: Pusat Vaksinasi Besar di Jepang; Rekor Baru Kasus di India (7)
Seorang petugas kesehatan membawa tabung oksigen di bangsal COVID-19, di Kathmandu, Nepal, Senin (26/4). Foto: Navesh Chitrakar/REUTERS

Pemerintah Nepal berjuang kuat untuk menghadapi pandemi COVID-19. Karena berbatasan langsung dengan India, Nepal kini diserbu strain baru yang lebih menular dari negara tetangganya.

Pada Minggu (25/4), otoritas Nepal melaporkan 3032 kasus baru. Jumlah itu merupakan penambahan terbesar sepanjang pandemi COVID-19.

Kini total infeksi virus corona di Nepal mencapai 300.119. Sebanyak 3164 di antaranya meninggal dunia.

Direktur Departemen Epidemiologi dan Pengendalian Penyakit Nepal, Krishna Prasad Paudel, mengungkap varian India dan Inggris adalah penyebab kasus corona di negaranya melonjak.